Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Masa Depan Teater Jawa Timur

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

Bicara problematik teater di Jawa Timur atau bahkan di Indonesia, kalau mau kita sederhanakan, sejak jaman Usmar Ismail dengan Sandirwara Mayanya, adalah hampir memiliki kesemaan. Sejak jaman Usmar Ismail sampai generasi teater Indonesia terkini teater masih bernasib sama, diperjuangkan sampai tetes darah terakhir.

Cerita tentang jual-menjual harta benda untuk sebuah pementasan terjadi sejak jaman itu, hingga sekarang. Ekonomi dan infrastruktur yang minim juga masih berlangsung hingga saat ini. Teater dijauhi penonton juga terjadi turun temurun. Teater termarjinalkan juga seperti kutukan, hinggap dalam tubuh teater hingga saat ini pula.

Memang berbicara teater selalu menyulut kemarahan, kesedihan, dan keputusasaan. Tetapi di balik kemuraman itu juga tersimpan harapan dan impian yang coba terus disusun meski kemudian runtuh lagi, persis seperti Sisipus. Teater masih tumbuh pada wilayah-wilayah lokal yang sempit di antara para individu yang…

Apresiasi Sastra dan Problem Bahasa

Agus Wibowo
http://www.lampungpost.com/

SASTRA, kata William Henry Hudson dalam Introduction to the Study of Literature (1960), selalu menyumbangkan nilai positif bagi kemanusiaan. Itu karena anasir-anasir yang dicipta bertalian erat dengan penikmatan ragawi dan rohani manusia seperti olah rasa, cipta dan karsa. Lewat kelembutan dan kehalusannya, lanjut Hudson, sastra mampu membangkitkan emosi luhur sekaligus menjembatani sifat fitrah manusia yang cinta akan keindahan.

Ketika hendak berkomunikasi dengan pembaca, sastra membutuhkan sarana atau mediasi, yaitu bahasa. Singkatnya, sastra mengguratkan hasil pencarian imajinasi itu dalam rangkaian kata dan bahasa yang tertata amat indah. Maka, peran bahasa menurut Slamet Mulyana (1964), sangat vital dan tidak bisa dianggap sepele.

Pertanyaannya kemudian, apakah ada hubungan antara penguasaan bahasa, mutu bahasa, dan apresiasi seseorang terhadap karya sastra? Tentu saja ada korelasi sangat signifikan. Sebab, kedalaman dan penguasaan bahasa sese…

BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA

Sutejo
Ponorogo Pos

Sejak mahasiswa tingkat S1, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini sudah rajin menulis. Awalnya dia menulis sajak dan puisi yang dimuat majalah Ti¬me. Berangkat dari kelompok diskusi mulailah dia menulis artikel di berbagai media massa, dan buku pertama yang diterbitkan adalah tesis dan disertasinya. Hingga kini –paling tidak-- telah mengha¬silkan 18 judul.

Mahasiswa, Demonstran Seksi

Misbahus Surur
http://indonimut.blogspot.com/

Tonggak sejarah berdirinya republik ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran mahasiswa di dalamnya. Perlawanan terhadap kolonialisme setelah tahun 1900-an banyak dipelopori oleh gerakan kaum muda (baca: mahasiswa). Lahirnya Boedi Oetomo (1908), sebagai pelopor perjuangan bangsa ini dalam melawan kolonialisme juga di dominasi oleh kaum muda. Boedi Oetomo menjadi tempat persemaian bibit-bibit pergerakan nasional. Dengan watak perjuangan yang terorganisir kaum muda ingin meninggalkan model perjuangan lama, yakni sebelum tahun 1900 yang masih bersifat kedaerahan. Semenjak diterapkannya sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) yang menyebabkan penindasan dan eksploitasi kekayaan negeri ini, gelagat perjuangan kaum muda mulai berkobar.

Di Indonesia, gerakan mahasiswa lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa tersebut. Akar gerakan kaum muda mempunyai orientasi yang cukup panjang. Dimulai sejak depresi ekonomi tahun 1878…

Muda Dipeluk Maut*

Judul Buku : Mereka yang Mati Muda, Sekali Berarti dan Sesudah itu (bukan Berarti) Mati!
Penulis : Arifin Surya Nugraha dkk
Penerbit : Bio Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I (Pertama) 2008
Tebal : 200 halaman
Peresensi: Sungatno**
http://cawanaksara.blogspot.com/

BUKU ini membicarakan delapan putra-putri bangsa yang dipeluk maut dalam usia muda. Lewat buku ini, Arifin Surya Nugraha dkk ingin membuktikan kebenaran konsep 'ada' meski orangnya telah tiada. Nama-nama mereka tetap hidup dan dikenang.

Dari delapan orang yang dibahas, pejuang HAM Munir Said menjadi sosok yang paling lama menghirup udara dunia. Penulis buku ini juga membicarakan Ahmad Wahib, Chairil Anwar, RA Kartini, Robert Wolter Mongunsidi, Soe Hok Gie, Jenderal Soedirman, dan Soeprijadi.

Senin, 7 September 2004, merupakan akhir hidup Munir Said. Usianya saat itu 39 tahun. Putra bangsa kelahiran Malang, Jawa Timur, itu saat menapaki perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda, keracunan.

Hasil autopsi menyebutkan Munir me…

Pemakaman Bekas Presiden

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.

Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.

Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.

Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa y…

Perjalanan Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Dunia

Maman S Mahayana
http://www.riaupos.com/

Jika Bahasa Melayu ditempatkan sebagai bahasa daerah, sangat mungkin para pakar bahasa (Indonesia) dan Pusat Bahasa, akan menghadapi tembok besar kegagalan. Bukankah salah satu syarat sebuah bahasa menjadi bahasa resmi PBB ditentukan oleh klaim bahwa bahasa itu telah menjadi bahasa negara, bukan bahasa daerah. Jika yang diusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa Nusantara, kendalanya sama saja, lantaran ia bukan sebagai bahasa negara. Jadi, yang diusulkan sebagai bahasa resmi PBB hendaklah bahasa negara, dan itu tidak lain adalah bahasa Indonesia. Pertanyaannya, apakah Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan beberapa negara ASEAN lainnya akan mendukung usulan itu?

Untuk melihat sejauh mana kemungkinan bahasa Indonesia dapat diterima sebagai bahasa resmi PBB, berikut ini akan dipaparkan argumen yang melandasinya, baik dilihat dari aspek kesejarahan, linguistik, maupun luas penyebarannya. Dalam konteks itulah, perlu kiranya kita menengok ke belakang…

KEDUDUKAN PARA PRIYAYI DALAM PETA NOVEL INDONESIA MODERN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com

Umar Kayam dalam peta kesusastraan Indonesia mencuat namanya ??terutama?? karena cerpen panjangnya "Sri Sumarah" dan "Bawuk" (1975) serta beberapa cerpen lainnya yang dimuat di majalah Horison. Kini ia telah meninggalkan kita dengan sejumlah warisan berupa sejumlah cerpen, buku esai, dan dua buah novel: Para Priyayi (Pustaka Utama Grafiti, 1992) dan Jalan Menikung (2001). Jika dalam peta cerpen, ia berhasil mengangkat kultur Jawa dengan sangat meyakinkan, lalu bagaimana pula dengan novelnya, Para Priyayi? Tulisan ini coba menempatkan Para Priyayi (selanjutnya disingkat: PP) dalam peta novel Indonesia mutakhir.

PP yang tebalnya 308 halaman, ternyata mengundang tanggapan yang ramai. Dalam satu bulan sedikitnya telah muncul 10-an resensi dan empat artikel di media massa ibukota. Dalam waktu sebulan, novel ini mengalami cetak ulang kedua. Cetakan ketiga, November 1992, dan kini terus mengalami cetak ulang.

Secara intrinsik, PP…

Inspirator Maya Angelou

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Di Amerika, Maya Angelou dikenal lewat buku-buku semi-autobiografinya semisal I Know Why the Caged Bird Sings. Lewat perjalanan hidupnya yang inspiratif, ia menjadi contoh positif bagi para perempuan Amerika di sana. Angelou memperlihatkan bagaimana dengan karakter, konsistensi, dan kerja keras, seorang perempuan dapat meraih kesuksesan.

Selain seorang penulis, ada banyak predikat lain yang bisa disandangkan kepada perempuan yang terlahir dengan nama asli Marguerite Johnson ini. Sebelum dikenal lewat buku-bukunya yang kerap mengangkat permasalah yang dihadapi para perempuan kulit hitam, I Know Why the Caged Bird Sings atau Gather Together in My Name, Angelou sudah terlebih dahulu merambah dunia seni sebagai seorang penari. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang aktivis perempuan.

Marguerite Johnson dilahirkan di St Louis, Missouri pada 4 April 1928. Masa kecilnya tak bahagia. Ia tinggal berpindah-pindah dari rumah ibunya di Arkansas dan rumah nene…

9 Pertanyaan untuk Marco Kusuma Widjaja: Memahami Seni Secara Luas

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

DIKENAL sebagai arsitek dan ahli tata kota, namun dua tahun silam Marco Kusuma Widjaja terpilih menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pro dan kontra mengiringi terpilihnya putera Pangkal Pinang ini, bahkan dua orang anggota DKJ memilih untuk mengundurkan diri.

Perdebatan berlarut-larut mengenai dirinya tak membuat Marco berkecil hati. Rumor yang mengatakan bahwa ia titipan dari komunitas tertentu dijawab dengan senyum dan lapang dada. "Yang penting bukan dari mana saya berasal, tetapi ke mana saya melangkah," katanya meyakinkan. Berikut petikan obrolan Marco dengan Jurnal Nasional di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

1. Selama dua tahun duduk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), apa target yang Anda inginkan sudah tercapai?

Saya tidak memiliki target. Target yang ingin dicapai merupakan target kolektif dari anggota DKJ yang berjumlah 23 orang, mereka bukan anak buah saya tetapi rekan sejawat. Mengenai target tersebut tent…

Olimpiade Sastra Siap Digelar

Ika Karlina Idris
http://jurnalnasional.com/

SELAMA ini olimpiade identik dengan mata pelajaran matematika dan sains. Olimpiade di bidang sastra? Tidak mustahil juga dilakukan. Apalagi, pada 2009, pemerintah berniat menggalakkan lagi pendidikan sastra di tingkat pendidikan dasar lewat olimpiade sastra.

“Kami siap menggelar olimpiade sastra sebagai penghargaan tertinggi bagi para siswa yang berminat dan mendalami sastra,” kata Direktur Pembinaan Taman Kanak-kanak/Sekolah Dasar (TK/SD), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Mudjito AK di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, lewat kompetisi bidang sastra diharapkan akses anak anak untuk membaca buku sastra bisa lebih luas lagi. Kecakapan anak untuk membaca bisa terpacu karena dilatih dengan baik. Puncaknya, timbullah minat yang mengarah pada kebiasaan. Kondisi itu akan menumbuhkan budaya baru di kalangan muda Indonesia.

Menurut Mudjito, kini kompetisi yang tersedia untuk karya sastra terbatas pada lomba mengarang. Itu pun digabung di acara fest…