Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

Pram, Sastra Kiri dan Pembebasan

Firdaus Muhammad
http://www.lampungpost.com/

"KITA semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia." (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, Hlm. 325)

Pramoedya Ananta Toer (Pram), maestro sastra berideologi kiri, 6 Februari lalu genap berusia 80 tahun, usia cukup keramat. Ketajaman mata batin mengiringi energi kreatifnya hampir tak tertandingi sehingga dinobatkan sebagai empu sastra. Karya-karyanya cukup berenergi, meski dibungkam gagasannya selalu hidup dan banyak mengilhami aktivis-aktivis pergerakan kampus. Hal itu bukan sebuah kebetulan, sebab Pram memiliki kecintaan pada rakyat dan pada angkatan muda yang selalu tergambar dalam karyanya. Kecuali itu, kekuatan kepenulisan Pram tercermin pada kemampuannya memadu…

Perjalanan Sang Penggagas Sastra Profetik

Abang Eddy Adriansyah
http://www.kabarindonesia.com/

KabarIndonesia - Satu minggu sebelum penyematan Anugerah Pena, penghargaan khusus FLP atas pengabdiannya di khazanah sastra Indonesia, Prof. Kuntowijoyo, cendekiawan dan sastrawan muslim itu dipanggil menghadap ke hadirat-Nya (23 Februari 2005). Almarhum meninggal setelah mengidap Meningo Encephalitis (radang selaput otak kecil) sepulang dari studi di negeri Belanda, sejak Januari 1992. Ia pamit dari hadapan khalayak pengagum yang selalu menunggu karya-karya cemerlangnya. Ia mangkat dari hadapan seniman, cendekiawan, tokoh-tokoh bangsa yang kerap menyerap ide dari kreativitas pemikirannya. Ia pergi, meninggalkan keluarga yang selama ini bersaksi atas ketekunan dan loyalitasnya membangun kemaslahatan hidup, melalui kolom, novel, jurnal, dan cerita-cerita pendeknya yang bernas.

Minat Prof. Kuntowijoyo terhadap dunia penulisan, khususnya sastra, terasah sejak usia dini. Di surau desa Ngawonggo, kecamatan Ceper, Klaten, di sela-sela kegiat…

SASTRA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURALISME*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Multikulturalisme adalah sebuah filosofi liberal dari pluralisme budaya demo-kratis. Multikulturalisme didasarkan pada keyakinan bahwa semua kelompok budaya secara sosial dapat diwujudkan, direpresentasikan, dan dapat hidup berdampingan. Selain itu, diyakini pula bahwa rasisme dapat direduksi oleh penetapan citra positif keanekaragaman etnik dan melalui pengetahuan kebudayaan-kebudayaan lain.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, pengetahuan kebudayaan-kebudayaan lain itu, tentu saja penting artinya dalam rangka pembukaan ruang interaksi antaretnis, antarsuku bangsa dan antarbudaya. Dari sanalah pemahaman adanya perbedaan budaya dapat ditempatkan dalam posisi yang setara, sehingga ia dapat diapresiasi masing-masing etnis dan suku bangsa dengan keanekaragamannya. Secara ideologis, multikulturalisme sangat mengagungkan adanya perbedaan budaya yang mengakui dan mendorong terwujudnya pluralisme budaya sebagai sebuah corak kehidupan kemasyarakata…

Agama, Sastra, dan Pluralitas

Heru Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

KALAU saya menganalogikan alam semesta dan sastra sebagai dunia yang sama, itu karena di antara keduanya mempunyai paradigma yang seide, yaitu alam semesta dan sastra merupakan dunia manifestasi dari penciptanya.

Alam semesta adalah manifestasi dari "perbendaharaan Tuhan". Sedangkan sastra adalah manifestasi "pikiran pengarang". Dalam tradisi filosofis, alam semesta dan sastra sama merepresentasikan kejeniusan penciptanya.

Karena alam semesta dan sastra sebagai perwujudan Tuhan dan pengarang selamanya tidak mampu merepresentasikan "kemahaan" penciptanya. Alam semesta adalah bahasa Tuhan dalam mewujudkan diri-Nya, tapi kesempurnaan alam semesta tidaklah sesempurna Tuhan.

Tuhan jauh lebih sempurna lagi. Hal ini juga terjadi pada sastra, seluas apa pun pemikiran dalam sastra tetaplah tidak bisa sama dengan keluasan pikiran pengarangnya karena menulis sastra hakikatnya mengambil keputusan untuk menghentikan pengembaraan i…

Kasak-Kusuk Problematika Kebudayaan Massa

Hardi Hamzah*
http://www.lampungpost.com/

ROMANTISME kebudayaan massa, kiranya masih bersikukuh pada lahan ide dan diskursus yang tidak implementatif.

Dua ribu delapan sebagai tahun tikus, kenyataannya musti menggererek pula di proses kebudayaan. Binatang yang biasa mengerat ini, hanya membuat gigitan spontan kemudian perlahan mengunyahnya, meski tikus perlambang dari kerakusan yang menahan diri.

Pusaran budaya dunia, kenyataannya demikian pula, maka ketika ribut ribut soal Golden Globe (semacam Piala Citra dari PWI) di Inggris, sesungguhnya kebudayaan masa yang telah merampok kebudayan sebagai suatu kemurnian.

Demikian pula ketika festival di Cile tentang akulturasi kultur Amerika Latin, Meksiko, dan Brazil lebih banyak menampilkan tanggo dan samba yang western alias bernafas kebudayaan massa.

Demikianlah, kebudayaan massa tidak terbendung. Sosok di belahan Eropa Utara, telah menjadikan kaum nudis punya maskot sendiri dari kemenangan perjuangan Eropa Utara. Dunia ketimuran juga memainkan p…

Edward Said, Sastra, dan Politik

Dahta Gautama
http://www.lampungpost.com/

Perjalanan intelektual Edward Said, seorang kritisi sastra terkemuka dan pembela lantang hak asasi manusia, telah membawa dirinya berkeliling dunia dan melintasi beraneka disiplin. Memberikan sumbangan penting bagi terciptanya perdebatan kontemporer tentang orientalisme, analisis wacana, politik pembangkangan dan post-kolonialisme.

Dengan mengkaji kekuasaan-kekuasan yang mapan di seluruh dunia, Said telah menyingkap sejumlah isu penting mengenai imperialisme, keterbelakangan dan kebudayaan. Sebagai orang yang menganggap seluruh dunia sebagai tanah airnya, ia menaruh harapan pada budaya-budaya yang tersisih dan peran intelektual sebagai sarana untuk membebaskan pemikiran kritis manusia dan menekankan kembali pentingnya pelbagai bentuk budaya melalui penafsiran ulang atas sejarah.

Pemikiran ulang Said yang kritis tentang sejarah mengandung arti sangat penting, yang kebetulan ia ungkapkan seiring dengan maraknya beraneka tanggapan yang berpengaruh lu…

Genealogi Kecantikan Bidadari Dungu

(catatan buat Perempuan Suamiku)
A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Syahdan, saya mendaras cerpen Sirikit Syah, penulis cewek yang memiliki talenta di jagad literer, di koran Kompas, Perempuan Suamiku. Dalam cerpennya tersebut, Sirikit Syah lihai membesut cerita ihwal pasangan laki-laki dan perempuan ideal.

Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya.

Beberapa ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, ju…

KEMISKINAN DAN GURITA ROKOK

S Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

Jawa Timur sebagai penerima terbesar Dana Bagi Hasil (DBH) cukai hasil tembakau, mungkin bukan rahasia. Tapi Jawa Timur juga gudang angka kemiskinan mungkin banyak yang tidak percaya. Bagi pembaca awam dua-duanya bisa dipertukarkan, atau diputarbalikkan. Antara yang bukan rahasia dan yang tidak percaya. Itu sekadar gambaran saja.

TAHUN ini, sesuai penyampaian Menteri Keuangan, Jawa Timur memperoleh Dana Bagi Hasil (Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau) sebesar Rp 135,849 miliar dari seluruh dana Rp 200 miliar teruntuk lima daerah di negeri ini. Sebagaimana dipersyaratkan UU No 39 tahun 2007 pasal 66A (1) bahwa bagian hasil cukai dan hasil tembakau untuk ongkos lima jenis kegiatan: peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri rokok, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan pemberangusan cukai palsu.

Besarannya, 30 persen diberikan kepada pemerintah provinsi, 40 persen kepada daerah penghasil, dan sisanya 30 persen di…

Tulah

Ratih Kumala
http://jawabali.com/

Darah Domba di Pintu Budak.

Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.

Bithiah s…

Sajak-Sajak Ulfatin Ch

http://www.republika.co.id/
DARI HUJAN

Yang tersisa dari hujan
basah aroma tanah.
Yang menggelitik pada setiap dada
ketika angin mulai meliuk
tanpa doa

Dan siapa tergesa
mengurai dosa

2006



BERLAYAR KE LAUT

Berlayar ke laut
dan terus ke laut lebih jauh
lebih dalam dari yang kita bayangkan.
Kita semakin jauh
terbawa permainan gelombang
angin pun terus bersendau
melajukan perahu.
Menghantam karang
dihempas badai, mengaduh.

Tapi, kita mesti berlayar
mendayung menghalau angin
entah, mungkin sampai
entah kapan
hingga pantai

2006



LAUT YANG RETAK

Dan kita saksikan laut-laut yang retak
dan kau simpan dalam
Dan kita saksikan laut membadai
dan kau simpan dalam
Dan kita saksikan seribu camar
tergolek tanpa sayap
mengapung di atas laut.

Kau diam
Tapi, aku ingin terus berlayar
Tapi aku ingin tanpa menoleh
hingga sebelum matahari mengejarku
sampai aku hilang
mungkin di balik bukit
mungkin di ujung langit
mungkin

Dan kau

2006



DALAM BERLAYAR

Setelah laut
pasti kutemukan pantai.
Di tengah laut ada karang
biarkan. Seekor camar
dan ikan yang berlompata…

ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Ketika berbagai saluran komunikasi terhalang tembok besi kekuasaan, sementara segala aspirasi dan harapan mampat di tengah jalan, kesenian –khasnya sastra— kerap digunakan sebagai alternatif. Di sana, dalam balutan estetika, sastra coba bermain dan mempermainkan saluran yang mampat itu. Tembok besi kekuasaan dan pandangan orang terhadapnya, dapat disulap menjadi lelucon atau kisah-kisah yang terjadi di dunia entah-berantah. Jadi, sastra berpeluang memasuki wilayah apa saja, tanpa harus dibayangi kecemasan menghadapi kegagalan mencapai sasaran.

Sastra tak berpretensi mengubah tatanan sosial secara revolusioner. Ia dihadirkan dengan kesadaran menggoda rasa kemanusiaan, menyentuh secara halus, dan diam-diam menggerayangi hati nurani kita. Sastra coba menguak dan kemudian menyodorkannya kepada kita dengan cara yang khas. Dalam hal ini, sastra mencoba menyajikan dan memaknainya dengan caranya sendiri. Ia mungkin berbentuk kisah tentang kehidupan…

Puisi-Puisi Leo Kelana

http://www.kompas.com/
Sajak di Malam Hari

Angin berjelaga
Gelas yang kosong
tiba-tiba terisi cinta.

Hati bicara pada batu dan debu.
Langit selamanya biru,
tapi getar kasih membuatnya kelabu.

Seperti ada kupu-kupu hinggap di mataku
Kupu-kupu ungu membawa nektar madu
Adakah sepi yang paling niscaya selain cinta?
Adakah gelisah yang paling misteri kecuali kasih?

Kita sama! Saling bertanya
pada kembang sepatu.
Kita sama! Saling bersembunyi
di sebalik sayap rahasia.

Kita; aku dan kamu-kah itu
yang membacakan sajak
pada sunyi di malam hari?

Kairo:2008



Sepi

Lagu apa pula menyanyi
di tengah malam
pintu bercakap pada dirinya;
yang lelah
yang pasrah
seperti ada malaikat turun perlahan
mengantar subuh yang hangat
tapi diri memagut
pada sepi tak tertahan
terasa matahari pun
enggan menjumpai pagi

Kairo 30 April '06



Sudahlah
-Untuk Aya-

Aku bertanya padamu
angin apakah mengantar pesan
dan kau mulai peduli diriku;
pejalan tak selesai berangan
Sudahlah!
di Kairo ini hatiku semakin pekat
membaca berita dari negeri laknat
lalu sekarat
lalu…

CALCUTTA VAN JAVA

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

SINOPSIS

KASIYATI, seorang penghibur di gang mesum memutuskan melayani seorang saja tamunya. Seorang berkebangsaan Belanda, Gerritsen. Pria itu bekerja sebagai ahli mesin di perusahaan yang terancam diswastanisasi oleh negara.

Di Jawa, Gerritsen punya misi lain selain tentu saja mencukupi kebutuhan hidup Kasiyati dengan seorang putranya. Pria itu bertugas memuluskan jalan agar perusahaan itu kembali dikuasai orang Belanda.

Kenyataannya, di Jawa Gerritsen malah melunasi kebebasannya menjalin hubungan asmara dengan mahasiswi ilmu budaya, seorang putri induk semangnya. Namanya Umi Khalsum. Di luar dugaan, gadis itu ternyata punya sederet nama lain karena ia pencari jati diri.
Tepatnya gadis itu seorang pemburu masa lalu.

Ia menemukan diri dan kejayaan Jawa di masa silam. Juga cinta yang membebaskan pada diri Gerritsen berawal dari sihir tarian bulu ayam di lubang kuping pria itu.
Hal yang sama terjadi pada Kasiyati, seorang pendamba masa depan, terhadap Ge…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com