Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

NatURalis ELementer

Nurel Javissyarqi
http://www.sastra-indonesia.com/

Waktu-Waktu Yang Digaris Bawahi

Setelah beberapa waktu perjalankan tubuh keliaran imaji menerka kejadian lalu di sekitar pengembaraan, sebagai mata uang lain selain membaca buku. Persoalan terfokus di satu titik perasaan, kejadian obyektif bagi bahan pengulangan demi meyakinkan observasi mencapai tangga lebih tinggi, lompatan menuju dunia ide.

Wewaktu digaris bawahi itu masa-masa bukan berdasarkan luangnya waktu semata atau menggebunya aktivitas terselesaikan tidur. Wewaktu merupakan barisan masa teruntuk kedekatan realitas membaca wacana berupa rindu kenangan.

Perolehan gesekan tajam yang bukan berangkat dari hati memendam hasutan. Tapi kepaduan penyelidikan berkesadaran menerima situasi demi bahan banding menjadi pelengkap niat menuju keteguhan.

Ketakutan bertindak berjalan melewati tulisan ialah tidak beralasan atas bahayanya jaminan kwalitas. Sebab hasil pengembaraan belum sampai terjual jika durung diperdagangkan serupa pencerahan.

Kita…

Demokrasi ala Kota Sejuta Bunga

Judul Buku : Demokrasi di Bumi Arema
Penulis : Drs. Peni Suparto, MAP
Kata Pengantar : Megawati Soekarnoputri
Penerbit : Perpustakaan Umum Kota Malang & Indo Press
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : xi + 132 Hlm
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*

Tak ayal, saat peluncuran buku ini (14/06/2008) di gedung Sasana Budaya Universitas Malang, penulis buku ini mengalegorikan demokrasi di bumi Arema layaknya bunga dengan beragam warna, mulai dari yang berwarna hijau, ungu, putih, kuning, biru hingga warna merah. Warna-warni bunga itulah menjadi tanda kehidupan harmonis bagi masyarakat satu sama lain yang merupakan harapan demokrasi di bumi Arema ini.

Kehadiran buku Demokrasi di Bumi Arema ini, diniatkan guna merekam perjalanan demokrasi lokal Malang. Kendati demokrasi sejatinya dilahirkan rahim Barat, namun bumi Arema memiliki periode-periode sejarah yang begitu egaliter. Diakui dalam buku ini bahwa di kota Malang turut memiliki riwayat kebijaksanaan masa lalu yang pada zamannya mempratikkan nilai-nila…

Di Balik Kemegahan Kota Terlarang

Judul Buku : Empress Orchid
Penulis : Anchee Min
Penerbit : Hikmah Jakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xvii + 595 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Cerita fiksi (novel) tak melulu merekam kehidupan hampa. Selain menimbun nilai estetis, novel juga berseru lirih ihwal kekejaman hidup. Anchee Min lewat karyanya, Empress Orchid ini cakap bertutur perkara ‘kekuasaan’ di era Dinasti Ch’ing.

Syahdan, Dinasti Ch’ing sudah tak dapat diselamatkan lagi sejak Cina dikalahkan Inggris Raya dan sekutunya dalam perang Candu. Lahirlah seorang gadis desa di tahun Kambing dari klan Yehonala yang hidupnya ditakdirkan memiliki kekuatan meski ia lebih awal kudu taklukkan rintangan. Para peramal menujumkan gadis yang lahir di tahun Kambing akan tumbuh besar menjadi kambing yang keras kepala dan berakhir menyedihkan. Untuk menepis nasib sial gadis itu, peramal memberinya nama Anggrek.

Anggrek adalah wanita menawan serta lentur. Berkat kemenawanannya, saat Kaisar Hsien Feng mengaudisi selir muda yang diiku…

Kematian Sang Raja

Sebuah Catatan Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer
Haris del Hakim

Kertarajasa, pada masa muda dikenal sebagai Ken Arok, tergeragap dari tidurnya. Ujung keris telah menempel di ulu hatinya. Kesadaran yang baru saja diperolehnya hilang sesaat kemudian kembali dan digenggamnya erat-erat. Dalam keadaan apa pun ia tetap seorang raja, berandal yang digelari Arok, dan panglima pasukan yang pernah menikamkan kerisnya ke jantung Tunggul Ametung.

Cahaya lampu minyak jarak di sudut ruangan membantu pandangan matanya yang sudah tua untuk mengenali anak muda yang sedang menghunuskan keris ke ulu hatinya. Ia ingat puluhan tahun lalu saat ia berbuat sama terhadap ayah pemuda itu. Kini ia harus berganti peran. Dia terbaring tak berdaya sebagaimana ayahnya, Tunggul Ametung. Anak tiri yang dibesarkan oleh kasih sayangnya itu sedang memerankan dirinya. Bukankah dulu dia juga mencecap kasih sayang yang dilimpahkan oleh Tunggul Ametung, meskipun atas saran dari Mpu Lohgawe? Sekarang, ia memetik karma dar…

RAS PEMBERONTAK

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=68

Dipersembahkan kepada almarhum Zainal Arifin Thoha, Suryanto Sastroatmodjo, serta kawan-kawan semuanya.

Pembuka
Ini luapan kesemangatan luar biasa tentang hidup. Buah berkah yang harus disyukuri, dijalankan sebagai kerja kudu cepat melaju, keras lagi tangguh dalam pertahanan. Saya sebut ras pemberontak itu, tandingan dari sifat kelembekan yang selalu menjegal langkah-langkah lincah kita saat berlari.

Ialah gairah besar harus diledakkan kecuali ingin datangnya bisul lebih parah lagi. Bisul itu pemberhentian tidak nyaman juga sangat menyakitkan. Maka songsonglah sebelum datangnya sakit menyerang. Kita diadakan sebagaimana ada, dan terus hadir di segala jaman dan sejarah kemanusiaan. Tanpa kita dunia bengong, pikun, melempem, lumpuh, apalagi ditambah laguan melemahkan jiwa, atas dasar nilai-nilai mandul.

Marilah melancarkan jawab, sebab hanya kita yang bisa menjawab persolaan yang menghadang, oleh telah diberi limpahan kemampuan lebih di atas…

Sajak Mardi Luhung

TERBELAH SUDAH JANTUNGKU

Aku diletakkan di antara dagingmu
yang digarami persetujuan dan peseturuan
akan mengambang di antara kejejakkanmu
sambil menjilati garammu itu

lewat bidang dadamu
aku melihat hari-hari jadi seperti babi
mengendus-ngendus di gigir pedang tajam sambil
menyerahkan tubuhnya berdikit-dikit dibelah

dan luka-luka darah pun meleler
darahmu ataukah sekalian darahku?
dan itu bercampur seperti adonan yang diubek
dalam piala kristal milik para sakit

yang sekaligus penguasa dan pemegang tali
para akrobat yang di malam-malam sedap
memutar bulan seperti memutar pantat
pantatku yang keras dan kering ini

aku memang milikmu dan kau milikkukah?
aku memang pasir, laut, siwalan, ceruk, ikan?
kau apakah juga memang nelayan, jaring, perahu, kemudi?
sang pasangan abadi yang tak pernah undur

melintasi apa yang telah ditudingkan
Tao dalam jalan, dalam nama, dalam sakti
Kresna dalam gita kewajiban dan pengorbanan
Sufi dalam dzikir yang menelan dan memuntahkan matahari itu

“Sang Prosa Abadi!” Ya, itulah Sang Pro…

Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya

Judul Buku : Nabi Tanpa Wahyu
(Esei-esei Sastra Perlawanan)
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : PUstaka PuJAngga Lamongan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Bertumpu pada kesadaran tertingginya, manusia akan mewujud melebur kedalam huruf, kata, hingga kalimat-kalimat. Manusia dapat bebas tentukan langgam tema karya sastra yang ia hasilkan. Menembus kanon sastra menjadikannya lentur. Memagnet pesastra pemula asyik-masyuk bergelut dengan dunia sastra yang tak lagi garang penuh aturan. Sehingga, terengkuh energi kreatifitas yang tak melulu membincang ihwal “langit” dari sumber tunggal (simbol agama). Serasa gawat, bila ada pemasungan kompleksitas dunia pada satu ruang agama formal.

“Bila Tuhan menubuh pada dunia, dan ruh menubuh pada badan manusia, maka kesadaranlah menubuh pada kata-kata.” Begitulah garitan kalimat mukaddimah gubahan Hudan Hidayat (HH) “Kredo Seni di Atas Kredo Puisi” dalam buku ini. Kata-kata adalah ruang bagi kesadaran untuk berd…

Menembus Teks Kesahihan Bersetubuh

Judul Buku : Ritual Celana Dalam
Penulis : Andy Stevenio
Penerbit : Galang Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 188 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Melayani hasrat seksual bagi manusia adalah kebutuhan niscaya. Pencetus teori hierarki kebutuhan pokok manusia, Abraham Maslow, menempatkan di rangking wahid tentang kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan seksual. Terasa ganjil dan menggelitik bila ada seseorang yang memenuhi hajat seksualnya secara unik, tak sama dari formula senggama keumuman orang.

Stevenio dikaryanya ini berhasil menguak potret beda cara pemenuhan hasrat seksual seseorang. Hal ini tak lepas, concern kajian dia sebagai pemerhati problem anak remaja masa kini.

Erat-kaitannya dengan relasi seks ganjil, Stevenio mengemukakan contohnya. Seperti, bercumbu mesra atau kencan dengan mayat yang tergeletak kaku tanpa nyawa, menyaksikan pasangannya berhubungan dengan orang lain dirinya baru bisa terangsang, mempertontonkan alat kelamin didepan umum untuk mendapatkan sensasi seksual, be…

Alur Hikayat Singa Babilonia

Judul Buku : Detik-detik Kematian Saddam
Penulis : NS. Mahmud dkk.
Penerbit : An-Naba’
Cetakan : I, Pebruari 2007
Tebal : vi + 105 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Hikayat pemegang tampuk kekuasaan Irak selama tiga dasawarsa - sejak tahun 1979 hingga 2003 - telah berakhir. “Saddam”, begitulah namanya dipanggil. Dengan nama lengkap: Saddam Hussein al-Majid al-Tikriti, lahir pada tanggal 28 April 1937 di Desa Auja, Tikrit, Irak. Ia pernah mengukir kejayaan gemilang dibumi Irak. Bahkan, ia pula tercatat sebagai tokoh besar dikawasan Timur Tengah dan Teluk. Dengan hiruk pikuk menuju jayanya kekuasaan, banyak pengalaman pahit dan menyakitkan dirasakannya.

Saddam menapaki karir politiknya hingga kepuncak lewat jalan darah. Ia memulai langkahnya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan Presiden Ahmad Hassan al-Bakr, sepupunya sendiri, tahun (1979). Sampai akhir hikayat pun, berujung dengan tragis, yaitu dihu…

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

GNOSIS
:meditasi ke kesunyian

Sekali lagi aku bersaksi atas wujudku sendiri; menafikan semua yang berbentuk meniadakan aku dalam wadah yang tetap ada; ada pada suatu dan satu waktu. Aku juga berada di atas setiap bentuk yang menyatu yang bertentangan.

“Lihatlah kedip lilin di tengah semesta itu aku telah merubahnya menjadi matahari!” maka semua musti terbuka kerana tak ada ruang yang mampu mewadahi cahaya tak terhingga ini. adalah hati yang kugenggam di sandaran kekasih menempuh perjalanan kepada tujuan pencarian.

Aku datang kekasih, tanpa jalan tanpa arah. selain dari wujud menuju wujud ke dalam kesatuan penyaksianku” sampai pada inilah seluruh cahaya berebut menyatukan hasrat diri ke suatu pusatku.

Ohoi, perjalanan ini aku mulai dengan penarikan diri dari dunia kebendaan, mengosongkan kekuatan rasa di jiwa kepada segala sesuatuku, dan aku melihat semua sebagaimana hakikat sendirinya: seperti tercermin dari wujud yang melenyapkan kesadaran dan makna semesta. aku pusat alam raya dan roh da…

Pameran Makam

A Rodhi Murtadho

Gundukan tanah. Nisan berjajar rapi menghadap arah yang sama. Kematian. Banyak orang tenggelam dalam tanah. Terbujur kaku. Entah hancur atau entah masih utuh tubuhnya. Yang pasti makhluk dalam tanah bersama mereka. Pengurai menguraikan jasad berkeping-keping. Menghancurkan tulang sampai tak ada beda dengan tanah. Sama. Layaknya humus yang terbentuk dari daun dan kotoran. Jasad manusia juga menjadi penyubur tanah. Tak heran kalau tumbuhan di tanah kuburan gemuk-gemuk dan subur.

Pandangan mata Beni semakin memfokus. Pertanda ia memikirkan sesuatu atau mungkin hanya menghayal. Tapi pandangannya tertuju pada tanah kuburan. Entah apa yang dipikirkannya.

“Pameran makam!” terceletuk lembut dari bibir Beni.

Kontan aku merasa kaget. Pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Bahkan sempat singgah di rumah sakit jiwa. Berjalan di trotoar dan tertawa sendiri. Terdiam dalam ruang sepi dan terpasung.

“Gila kau Ben, mana ada pameran makam,” sanggahku.
“Coba kau pikirkan Bud, sebuah pameran m…

BUAT J.W.V. GOETHE, I

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=93

(I) Ribuan gentayangan menjambak rambutku,
bersama matahari melewati tujuh harinya bumi,
duabelas purnama, gerimis dan terik menyengat.
Yang malam, menyaksikan bintang-gemintang abadi,
atas padang rumput ilalang, kala kabut menebar sangsi;
udara mulai terhirup pemikiran, keraguan ganjil tertelan.

(II) Kalung melingkari leher bidadari,
tak lebih lebar punggung belati; ditempa cahaya purnama,
berkilatan menyambar nyawa perhitungan. Darah muncrat
sesegar perut perawan, yang terhunus pedang sendiri.

(III) Pada Faustmu, kubelajar tujuh kerahasiaan alam,
segala ruh mempesonaku, menuruti ke batas kota hening;
kita mengajarkan hembusan angin kencang pembebasan.

(IV) Sebab dinginnya cahaya mengendap,
kulit terdekat perapian, menjembatani kekuatan;
bertabrakan sebagaimana perang di altar nurani.

(V) Ini anak laba-laba memakan induknya; manusia,
dirayu mengenyam bahagia, serupa seribu pintu menawan.

(VI) Di batu hitam berlumut, percakapan hening suwong;
lembab mera…

BUAT J.W.V. GOETHE, II

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=91

(I) Faust, aku mendengarmu dalam keriuh rendahan
tebing sukmaku; bukit-bukit berbaris menguji dakian ini,
raut yang jauh di atas pegunungan salju adalah milikku.
Kau dinginkan tubuh hujan, kapas randu menerpa
jubahmu, yang kumal bagiku ketuaan wajahmu;
memandang purbawi dunia dari segala yang ada.

(II) Kau terdiam serupa patung es,
tapi panas gemuruh sukmamu memanggil mereka,
kepadaku hendak persembahkan tarian di panggung,
ketika semua tenggelam dalam penilaian-penilaianmu.
Ku tebarkan bunga-bunga harum di pelataran kesucian,
air menyetubuhi mawar memercik pada kerajaan cahaya;
kebahagiaan hidup memberi, teruntuk tuntunan tebusan.

(III) Aku rela mengunjungi kepahitan,
yang hianat biarkan senang dalam sekejap;
kemenangan di kuburan atau berharap, inilah
jantung keabadian, tengah meneguhkan niatan.

(IV) Panggilan ruh ketinggian kerinduan langit,
yang digubah sebelum kita memaknai peribadatan.

(V) Api gentayangan menghancurkan timur-barat
demi kepuasan tand…